JAKARTA, iNews.id - Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2018 sekitar 5,3 persen. Meski angka tersebut naik dari prediksi tahun kemarin yang hanya 5,1 persen, namun tetap lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik yang sebesar 5,4 persen.
Pengamat Ekonomi Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, kondisi tersebut dipengaruhi oleh banyak factor. Namu, yang paling penting adalah menurunnya kepercayaan konsumen. Sebab, porsi Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 56 persen disumbang dari konsumsi rumah tangga.
"Jadi naik turunnya ekonomi sangat bergantung dari belanja masyarakat," ujarnya kepada iNews.id, Minggu (15/4/2018).
Kemudian, faktor lain seperti meningkatnya risiko di tahun politik yang membuat para investor baik domestik maupun asing banyak yang wait and see. Faktor ini senada dengan World Bank yang mengakui akan terjadi sedikit hambatan saat Pemilu. Namun, setelah Pemilu selesai kondisi tersebut akan berlangsung membaik karena ketidakpastian politik akan berkurang.
Apalagi turunnya penjualan properti berpengaruh ke pembelian barang tahan lama atau durable goods. Selain itu, naiknya harga kebutuhan pokok khususnya jelang Lebaran juga membuat masyarakat lebih banyak menyimpan uang di bank untuk kebutuhan Lebaran.