Dari sisi belanja pemerintah, bujet pertumbuhan anggaran yang dikeluarkan memang tidaklah besar. Namun, hal itu tetap berkontribusi tehadap capaian ekonomi nasioal sepanjang tahun nanti.
"Pertumbuhan investasi, eskpor-impor itu baik. Pertumbuhan ekonomi itu dilihat dari sisi pengeluaran penentu utamanya adalah investasi, konsumsi rumah tangga, ekspor, impor dan belanja pemerintah," ujarnya.
Sementara untuk realisasi pendapatan per kapita atau Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Maret 2017 telah mencapai 10,64%. PDB tiap tahunnya juga terus mengalami peningkatan dari Rp41,92 juta per tahun pada 2015 menjadi Rp47,96 juta per tahun pada 2016.
Di sisi lain, dalam tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK, laju inflasi menurun dari 4,49% (Year on Year/YoY) pada September 2014 menjadi 3,72% (YoY) pada September 2017. Defisit transaksi berjalan juga turun dari 2,3% pada kuartal II/2016 menjadi 2% pada kuartal II/2017. Adapun surplus perdagangan Januari-September 2017 mencapai USD10,8 miliar. Ini yang tertinggi sejak 2017.
Bank Dunia Patok 5,1%
Optimisme pemerintah tampaknya tak serupa dengan prediksi Bank Dunia. Berdasarkan proyeksi Bank Dunia dalam laporan terbaru yang bertajuk Indonesia Economic Quarterly (IEQ) untuk edisi Oktober 2017, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya bergerak 5,1% atau berbeda 0,1% dari APBN-P 2017.
Sebelumnya Bank dunia memang mematok angka yang serupa dengan APBN-P 2017. Namun ada faktor utama yang menyebabkan Bank Dunia melakukan koreksi, yakni pertumbuhan konsumsi swasta yang stagnan atau tetap sama.
Walau hanya dipatok 5,1%, Indonesia tetap menjadi salah satu negara yang pertumbuhan ekonomi paling cepat di dunia.