JAKARTA, iNews.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menggelar rapat koordinasi (rakor) untuk membahas perluasan mandatori biodiesel 20 persen (B20) yang sudah dua pekan diterapkan. Rakor tersebut dihadiri Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar.
Dalam rapat tersebut kedua belah pihak mencocokkan data mengenai dampak dari implementasi mandatori B20. Hasilnya, perluasan B20 masih belum sesuai harapan karena banyak kendala teknis yang ditemui di lapangan.
Darmin menilai, salah satu kendala teknis ini berkaitan dengan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang merupakan bahan baku biodiesel. Dari hasil laporan di lapangan, pasokan sawit tak selalu banyak di tiap bulannya sehingga pasokan biodiesel tak bisa disalurkan secara cepat.
"Memang ada bulan di mana dia enggak (berproduksi), adanya sedikit sekali," ucap Darmin saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (18/9/2018).
Pada akhirnya, pemerintah mulai mengevaluasi kembali dampak dari B20 hingga akhir tahun. Apalagi target pemerintah dari perluasan ini bisa menghemat devisa 20 miliar dolar AS setiap tahun.