Meski begitu, Heru mewanti-wanti adanya gap antara pertumbuhan kredit dan tentunya dana pihak ketiga yang dapat berpotensi menurunkan akuntabilitas industri perbankan. Demikian juga risiko kredit yang masih juga menjadi perhatian kita bersama.
Lebih detail Heru menjelaskan, meskipun pertumbuhan dunia dan nasional menunjukkan tanda tanda perbaikan namun masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain dampak dan resiko dari dampak tapering The Fed, potensi kenaikan suku bunga, normalisasi kebijakan di tiap negara, tidak meratanya distribusi vaksin antar negara, dan melonjaknya kembali kasus Covid-19 di beberapa negara.
"Untuk industri perbankan kita harus masih menghadapi berbagai tantangan jangka pendek maupun tantangan struktural," ucap Heru.
Adapun tantangan jangka pendek antara lain, ketidakpastian penyelesaian pandemi Covid-19, ekspektasi tappering off The Fed seiring pemulihan ekonomi AS, kondisi pasar keuangan yang mengalami volatilitas yang tinggi, serta potensi risiko berakhirnya kebijakan stimulus fiskal untuk pemulihan perekonomian. Ini semua menjadi perhatian kita bersama.
"Sementara itu, tantangan struktural antara lain, struktur perbankan kita masih didominasi populasi bank dengan skala usaha yang kecil dan dengan berdaya saing yang tentunya lebih rendah, perubahan ekosistem dan harapan stakeholder akan perkembangan digital yang semakin masif dan semakin besar," tuturnya.
Untuk menghadapi dampak Pandemi Covid-19 dan sekaligus menangkap peluang transformasi digital di industri keuangan, Heru menekankan bahwa OJK telah menerbitkan serangkaian kebijakan dan peraturan.
"Hal ini bertujuan agar industri jasa keuangan dapat bertahan dari tantangan krisis kemudian juga stabilitas keuangan tetap terjaga serta menghindari terjadinya berbagai gangguan pada sistem keuangan," ujarnya.