"Tapi, penurunan yield obligasi setidaknya bisa sampai 25 hingga 50 basis poin dalam tiga bulan ke depan. Turunnya yield lambat karena tekanan eksternal khususnya kenaikan Fed Rate yang diprediksi naik 4 kali tahun depan. Jadi risikonya masih tinggi," ujarnya.
Bhima menilai, langkah Fitch mengerek rating surat utang Indonesia bisa saja dievaluasi mengingat penerimaan negara yang terancam jauh di bawah target. Defisit anggaran pun diperkirakan akan melebar.
"Untuk tahun 2017, diprediksi akan ada shortfall pajak Rp130-150 triliun. Angka ini dikhawatirkan membengkak di 2018 karena tahun depan sudah tidak ada lagi tax amnesty," kata Bhima.
Selain itu, lanjut Bhima, Fitch juga menyoroti soal efek penerimaan negara yang rendah berakibat pada ketergantungan pembangunan infrastruktur pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Akibatnya, keuangan BUMN saat ini makin berisiko.
Bhima menyebut, rata-rata arus kas (cashflow) empat BUMN karya, yakni PT Adhi karya Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PT Waskita Karya Tbk, dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, minus hingga Rp3 triliun.
“Jika BUMN gagal bayar, yang akan menanggung adalah APBN sebagai collateral. Ini yang mesti diperhatikan pemerintah ke depannya," ucapnya