Penguatan rupiah membuatnya menjadi juara kedua di Asia setelah rupee India yang menguat 1,09 persen. Hampir seluruh mata uang Asia pagi ini menguat lawan dolar AS.
Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, rupiah berpotensi lanjut menguat hari ini. Hal ini seiring masih adanya sentimen positif dari dalam negeri.
Kendati demikian, kenaikan tersebut juga akan dibarengi dengan perkiraan kembali meningkatnya dolar AS jelang pertemuan G-20.
"Pertemuan tersebut akan mempertemukan antara Presiden Xi dan Presiden Trump untuk membahas kesepakatan dagang," katanya.
Laju rupiah sebelumnya mampu kembali menguat setelah merespons pergerakan dolar AS yang melandai. Adanya komentar The Fed terkait dengan arah suku bunga yang cenderung netral membuat kenaikan dolar AS tertahan sehingga memberikan kesempatan pada rupiah untuk berbalik menguat.
Di sisi lain, sentimen positif datang dari pernyataan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo yang menyampaikan prospek ekonomi Indonesia akan semakin membaik dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dan stabilitas yang tetap terjaga.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 diperkirakan tetap meningkat hingga mencapai kisaran 5,0-5,4 persen. Inflasi 2019 tetap terkendali pada kisaran sasaran 3,5 hingga harapan optimisme lainnya turut menambah sentimen positif pada rupiah.