Selain itu, Roy juga menyampaikan temuan dari hasil perbandingan wajah (face comparison) antara pas foto dalam ijazah Jokowi dengan foto-foto lainnya.
"Hasil face comparation justru menghasilkan pas foto di ijazah match dengan atau cocok dengan foto Dumatno Budi Utomo. Ijazah pembanding nomor 1115 milik Frono Jiwo, kemudian 1116 milik almarhum Hari Mulyono, 1117 Sri Murtiningsih semuanya cocok, semuanya identik," paparnya.
"Tapi lucunya, ijazah milik Joko Widodo nomor 1120 tidak identik. Jadi tidak identik dengan tiga ijazah di atas," lanjutnya.
Roy juga menyoroti kejanggalan dalam isi skripsi yang ditelusuri bersama sejumlah pihak.
"Tidak ada lembar pengujian yang sangat penting dalam skripsi. Lembar pengujiannya tidak ada. Saya, Rismon, Dokter Tifa waktu lihat skripsi tidak ada, dan waktu itu sudah ditanyakan dan Prof Mening juga bingung kok nggak ada," katanya.
Ia bahkan menemukan ucapan terima kasih dalam skripsi yang menyebut nama Soemitro dengan gelar profesor, padahal pada saat itu Soemitro belum dikukuhkan sebagai guru besar.
"Kesimpulan dari ini semua, skripsi yang cacat tidak akan lulus dan tidak akan ada yang asli," tegas Roy.