"Cerita cinta perempuan usia 40-an masih jarang diceritakan dari sudut pandang perempuannya sendiri. Pembahasannya sering langsung tertuju pada status pernikahan atau usia pasangan," kata Country Head WeTV Indonesia, Febriamy Hutapea.
Dalam Tante Sonya, hubungan Sonya dan Ben kemudian berkembang bukan hanya sebagai kisah tentang perbedaan usia. Keduanya juga harus membangun rasa percaya di tengah luka masa lalu dan keraguan yang dimiliki Sonya.
Ben perlu menunjukkan bahwa perasaannya bukan sekadar kekaguman sesaat. Sementara Sonya harus menghadapi ketakutannya sendiri setelah pernah dikhianati oleh orang yang hendak dinikahinya.
Kisah tersebut sekaligus membawa pesan bahwa cinta tidak harus hadir mengikuti jadwal yang ditentukan masyarakat. Perempuan yang memasuki usia matang tetap memiliki ruang untuk menemukan pasangan, jatuh cinta, maupun memulai kembali sebuah hubungan.
Pada akhirnya, persoalan terpenting bukan berapa usia seseorang ketika jatuh cinta atau seberapa jauh perbedaan usia dengan pasangannya, melainkan kesiapan untuk menjalani hubungan tersebut dengan kesadaran dan pilihan sendiri.