"Secara keseluruhan, ini menceritakan tentang kehidupan perkantoran. Dan ada sikut-sikutan lah antara pemimpin-pemimpin organisasi ini. Jadi si Harley ini dia iri sama si pemerintah Daniel. Makanya dia pengen merebut lagi posisi CEO ini. Tapi dibalik itu adalah kisah-kisah cinta-cintanya, lucu-lucunya," ujarnya.
Lebih lanjut, Gavin juga menyoroti format microdrama yang digunakan dalam Bosku Cintaku. Menurutnya, konsep ini membawa inovasi baru bagi penonton Indonesia. Sebab, masyarakat Indonesia sudah tersihir oleh microdrama asal China.
"Itu kayak inovasi yang baru ya. Dari China lah ya, ini beracun. Jadi untuk sekarang orang-orang itu nggak perlu download-download aplikasi-aplikasi yang gimana-gimana dulu," ucapnya.
Bagi Gavin, kemudahan mengakses tontonan lewat media sosial membuat drama ini bisa menjangkau lebih banyak orang.
"Udah bisa nonton film yang bagus gitu kan. Kita buka social media aja, langsung bisa muncul drama-drama singkat ini. Terus nggak perlu ke bioskop lagi, udah bisa nonton dari HP aja," tambahnya.