Untuk itu Vision+ nantinya tidak hanya fokus pada produksi konten, tetapi juga pada aspek penerjemahan dan penyesuaian bahasa.
"Kami harus mengejar bukan hanya production-nya, tapi juga translation-nya, supaya bisa menyesuaikan dalam Bahasa Inggris, Bahasa Chinese, Bahasa Jepang, dan seterusnya," katanya.
Dari sisi perkembangan konten, Clarissa menilai Vision+ mengalami lonjakan signifikan dalam produktivitas dan kreativitas. Jika sebelumnya Vision+ hanya memproduksi sekitar 10–12 judul per tahun, kini jumlah produksi meningkat drastis di mana sudah ada 90 judul microdrama.
"Sekarang kami sudah hampir memproduksi 90 judul mikrodrama. Jadi jauh lebih agresif," ungkap Clarissa.
Ke depannya Vision+ tetap mempertahankan kekuatan konten olahraga yang selama ini menjadi daya tarik utama bagi pasar Indonesia.