JAKARTA, iNews.id – Data Kementerian Kesehatan mengungkapkan fakta mengejutkan soal kondisi kesehatan mental masyarakat Indonesia. Anak usia sekolah tercatat lebih rentan mengalami gejala depresi ketimbang orang dewasa.
Berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kemenkes per 1 Januari 2026, lebih dari 27 juta penduduk telah menjalani skrining kesehatan jiwa. Dari hasil tersebut, kesenjangan antara kelompok usia muda dan dewasa terlihat jelas.
Pada anak usia sekolah dan remaja, 4,8 persen atau 363.326 orang terdeteksi mengalami gejala depresi, sementara 4,4 persen atau 338.316 orang menunjukkan gejala kecemasan. Angka ini berkali-kali lipat lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia.
Sebagai perbandingan, pada kelompok dewasa dan lansia, gejala depresi hanya tercatat 0,9 persen atau 174.579 orang, sedangkan kecemasan berada di angka 0,8 persen atau 153.903 orang. Data ini memperlihatkan bahwa tekanan psikologis justru paling kuat menghantam kelompok usia muda.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai, rendahnya angka skrining bukan berarti masalah kesehatan jiwa minim, melainkan banyak kasus yang belum terdeteksi. Menurutnya, temuan saat ini baru menggambarkan puncak gunung es dari persoalan yang lebih besar di masyarakat.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran soal tekanan akademik, sosial, dan lingkungan digital yang dihadapi anak sekolah dan remaja.
Menyikapi temuan ini, Kemenkes menyatakan telah menyiapkan tata laksana pelayanan kesehatan jiwa, termasuk layanan psikologis, untuk mencegah masalah mental sejak usia dini sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.