Hasil pemeriksaan laboratorium sebaiknya selalu dikonsultasikan kepada dokter atau tenaga kesehatan. Sebab, interpretasi hasil tidak hanya bergantung pada tulisan 'reaktif' atau 'non-reaktif', tetapi juga mempertimbangkan riwayat paparan, jenis pemeriksaan yang digunakan, hingga waktu pelaksanaan tes.
Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan menyimpulkan sendiri kondisi kesehatannya hanya berdasarkan hasil laboratorium tanpa penjelasan tenaga medis.
Menjadi catatan bahwa kasus yang menimpa Ruben Onsu juga menjadi pengingat agar masyarakat tidak mudah mempercayai informasi mengenai kondisi kesehatan seseorang yang beredar tanpa bukti medis.
Status HIV seseorang hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan yang tepat dan interpretasi oleh tenaga kesehatan. Menyebarkan dugaan atau informasi yang belum terbukti tidak hanya berpotensi menyesatkan, tetapi juga dapat menimbulkan stigma terhadap orang dengan HIV.
Saat ini, HIV merupakan penyakit yang dapat dikendalikan dengan terapi antiretroviral (ARV). Dengan pengobatan yang rutin, orang dengan HIV dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang panjang.
Bahkan, ketika jumlah virus berhasil ditekan hingga tidak terdeteksi (undetectable), risiko penularan melalui hubungan seksual dapat dicegah sesuai bukti ilmiah yang dikenal dengan prinsip U=U (Undetectable = Untransmittable).
Oleh karena itu, apabila memiliki kekhawatiran pernah terpapar HIV, masyarakat disarankan melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan dan tidak mengandalkan informasi yang beredar di media sosial atau rumor yang belum terbukti.