Deteksi Kurang Maksimal, Banyak Pasien Hemofilia yang Terlanjur Sakit Berat 

Muhammad Sukardi
Penyakit Hemofilia di Indonesia masih belum banyak terdeteksi dan ini menjadi ancaman bagi pasien. (Foto: Pexels)

Bicara soal komplikasi serius yang bisa terjadi karena keterlambatan diagnosis, dr Novie mengatakan, adalah terbentuknya inhibitor atau antibodi yang menghambat efektivitas terapi faktor pembekuan darah.

Penelitian yang dilakukan oleh Unit Kerja Koordinasi Hematologi-Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia pada 2022 menemukan bahwa prevalensi inhibitor faktor VIII pada anak-anak dengan Hemofilia A di 12 kota besar di Indonesia mencapai 9,6 persen. 

Selain masalah deteksi dini yang masih sangat minim, pasien Hemofilia juga menghadapi tantangan di akses pengobatan yang belum merata. 

"Fasilitas diagnosis dan pengobatan umumnya itu terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara pasien di daerah terpencil masih harus menghadapi keterbatasan layanan medis, baik dari segi infrastruktur, ketersediaan obat faktor pembekuan, hingga tenaga medis yang paham tentang gangguan perdarahan," papar dr Novie. 

"Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mengadvokasi hal ini demi meningkatkan diagnosis dan tatalaksana Hemofilia, serta penyakit perdarahan lainnya di Indonesia," tambahnya.

Editor : Muhammad Sukardi
Artikel Terkait
6 jam lalu

AI Dirancang Bisa Baca Hasil MRI, Kemenkes: Tidak Gantikan Dokter!

7 jam lalu

Kemenkes Siapkan AI yang Bertugas Baca Hasil MRI, Ini Faktanya!

3 hari lalu

RS Lapangan Dibangun Imbas Gempa NTT, Ibu Hamil hingga Pasien Cuci Darah Jadi Prioritas

3 hari lalu

Polusi Jakarta Parah Banget! Ayo Pakai Masker Lagi

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal