Menurut dr Adam, informasi tersebut mengacu pada penelitian berjudul Ejaculation Frequency and Risk of Prostate Cancer: Updated Results with an Additional Decade of Follow-up. Penelitian itu menemukan adanya hubungan antara frekuensi ejakulasi dan risiko kanker prostat yang lebih rendah.
Salah satu dugaan mekanisme yang mendasari temuan tersebut adalah proses ejakulasi membantu mengeluarkan cairan beserta zat-zat tertentu dari kelenjar prostat. Dengan demikian, potensi penumpukan senyawa yang diduga berperan dalam pembentukan kanker dapat berkurang.
"Rutin ejakulasi diduga membantu mengeluarkan zat-zat yang memicu terjadinya kanker prostat," ujarnya.
Meski demikian, dr Adam mengingatkan hasil penelitian tersebut menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan membuktikan hubungan sebab akibat. Artinya, ejakulasi yang lebih sering belum dapat dipastikan secara langsung mencegah kanker prostat.
Dia menegaskan, menjaga kesehatan prostat tetap memerlukan pola hidup sehat secara menyeluruh. Mulai dari mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok, hingga menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi pria yang memiliki faktor risiko.
Edukasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami hasil penelitian secara utuh. Dengan begitu, informasi mengenai frekuensi ejakulasi tidak disalahartikan sebagai satu-satunya cara untuk mencegah kanker prostat, melainkan sebagai salah satu temuan ilmiah yang masih terus dikaji lebih lanjut.