Artinya, kenaikan kortisol setelah olahraga malam merupakan respons sementara dan bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan berlebihan. Tubuh tetap memperoleh manfaat kesehatan dari aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin.
Dalam penjelasannya, dr Adam juga menanggapi kekhawatiran soal dampak kortisol terhadap otak. Dia mengatakan penyusutan area otak akibat kortisol biasanya terjadi pada kondisi stres kronis atau penyakit tertentu, bukan karena olahraga malam.
"Kortisol memang bisa ‘mengecilkan’ area di otak, namun itu terjadi pada kondisi stres kronis atau penyakit seperti Cushing’s syndrome, bukan olahraga malam," tulisnya lagi.
Sebaliknya, olahraga justru disebut memiliki manfaat untuk menjaga kesehatan otak. Aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan kemampuan otak untuk berkembang sekaligus menurunkan peradangan pada area otak.
"Olahraga itu secara umum, termasuk malam hari, justru melindungi otak," katanya.
Saat ini banyak orang memilih berolahraga pada malam hari karena baru memiliki waktu luang setelah bekerja atau beraktivitas seharian. Menurut dr Adam, hal terpenting bukan soal kapan waktu olahraga dilakukan, melainkan konsistensi dalam menjalankannya.