"Jadi intinya, tato 'permanen' itu sebenarnya hasil dari relay makrofag yang terus-menerus menangkap ulang pigmen yang dilepas oleh makrofag sebelumnya, bukan karena tinta menempel statis di kulit," katanya.
Di balik mekanisme tersebut, dr. Adam juga mengingatkan adanya potensi risiko kesehatan yang masih terus diteliti. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan akumulasi pigmen dalam jangka panjang diduga dapat memengaruhi fungsi normal sistem kekebalan tubuh.
"Yang menarik, beberapa riset terbaru menemukan bahwa penumpukan pigmen jangka panjang ini berpotensi mengganggu fungsi imun normal, termasuk respons terhadap vaksin tertentu, dan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko limfoma (kanker kelenjar getah bening) serta kanker kulit," ujarnya.
Meski demikian, hubungan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan kaitan sebab-akibat. Karena itu, siapa pun yang berencana memasang tato sebaiknya memahami manfaat dan risikonya, serta memastikan prosedur dilakukan di tempat yang menerapkan standar kebersihan dan keamanan yang baik.