Namun demikian, bukan berarti stres bisa dianggap sepele. Sejumlah kajian kesehatan menyebutkan, stres berat dan berkepanjangan dapat meningkatkan risiko keguguran secara tidak langsung. Hal ini berkaitan dengan respons biologis tubuh terhadap stres.
Saat seseorang mengalami stres kronis, tubuh akan memproduksi hormon stres seperti kortisol dalam jumlah tinggi. Kondisi ini dapat memengaruhi berbagai sistem dalam tubuh, di antaranya:
- Menurunkan daya tahan tubuh (imunitas)
- Mengganggu keseimbangan hormon kehamilan
- Memicu gangguan tidur dan pola makan
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan komplikasi kehamilan, seperti gangguan perkembangan janin, kelahiran prematur, hingga meningkatkan risiko keguguran.
Stres dalam rumah tangga sering kali bersifat kompleks dan berkepanjangan, misalnya akibat konflik pasangan, tekanan ekonomi, atau beban mental yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, ibu hamil bisa mengalami stres kronis yang lebih berisiko dibandingkan stres sesaat.