"Saat ini, dari 514 kabupaten/kota, yang memiliki mammografi saat data dikumpulkan masih di bawah 100 kabupaten/kota," kata Siti Nadia.
"Kami mengupayakan untuk meningkatkan sosialisasi program deteksi dini menggunakan SADARI dan SADANIS, sehingga ini bisa menjadi alternatif penemuan dini kasus kanker payudara," tambahnya.
Selain masalah akses terhadap mammografi yang masih sangat terbatas, kendala lain yang membuat angka skrining kanker payudara dengan mammografi rendah adalah masih beredarnya mitos di masyarakat.
"Misalnya mammografi itu sangat menyakitkan, mammografi bisa membuat kanker malah menyebar. Padahal, sekarang pemeriksaan mammografi bisa lebih nyaman dengan tanpa mengorbankan kualitas gambar, yaitu dengan Mammomat B.brilliant di MRCCC," papar Kepala Departemen Radiologi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi dr Nina ISH, SpRad PRP (K).
Di kesempatan yang sama, dr Nina juga mengingatkan bahwa edukasi kepada masyarakat bahwa dengan skrining menggunakan USG payudara untuk perempuan usia di bawah 40 tahun dan mammografi mulai usia 40 tahun, dapat mencegah kejadian kanker payudara stadium lanjut.