Salah satu penyebab paling umum adalah deviasi septum, yakni kondisi ketika dinding pemisah antara dua rongga hidung bengkok. Akibatnya, salah satu saluran udara menjadi lebih sempit sehingga aliran napas tidak seimbang.
Selain itu, kondisi lain yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan adalah pembesaran turbinat, yaitu jaringan di dalam hidung yang berfungsi menyaring dan melembapkan udara. Jika jaringan ini membesar, saluran hidung dapat tertutup sebagian.
Penyebab lainnya adalah polip hidung, yakni pertumbuhan jaringan lunak di rongga hidung yang dapat menghalangi aliran udara.
Menurut penjelasan dari American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, gangguan struktur hidung seperti deviasi septum, sering kali tidak disadari seseorang selama bertahun-tahun, karena tubuh telah beradaptasi dengan kondisi tersebut.
Dalam beberapa kasus, dokter akan menyarankan tindakan operasi untuk membuka kembali saluran napas, sehingga pasien dapat bernapas dengan normal. Dan itu juga yang dilakukan Hanung Bramantyo di Korea Selatan.