Dokter Adam menjelaskan, masa penularan campak umumnya berlangsung sejak empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelahnya. Karena itu, seseorang yang merasa sudah membaik belum tentu terbebas dari risiko menularkan virus kepada orang lain.
Virus campak menyebar melalui percikan droplet yang keluar saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Dalam kondisi tertentu, virus bahkan dapat bertahan di udara dan permukaan benda selama beberapa waktu, sehingga meningkatkan risiko penularan di tempat ramai.
Risiko penyebaran menjadi lebih besar ketika penderita berada di kerumunan padat, seperti konser, transportasi umum, pusat perbelanjaan, atau acara besar lainnya.
Gejala campak biasanya diawali dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan kemudian muncul ruam kemerahan yang menyebar ke seluruh tubuh. Pada sebagian orang, terutama bayi, lansia, ibu hamil, dan mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah, campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga radang otak.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas di ruang publik ketika sedang mengalami gejala penyakit menular. Selain itu, vaksinasi tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah penyebaran campak dan melindungi kelompok rentan dari risiko komplikasi yang berbahaya.