Sebagian ahli pangan seperti pakar pangan asal Yordania, Dr Jamil al Qudsi ad-Duwaik menyatakan kata qitsa dalam ayat tersebut secara harfiah memang artinya mentimun. Namun, maknanya bisa luas yang juga disematkan ke buah semangka.
Dr H Fathul Bari dalam artikelnya dilansir dari laman nuprobolinggo menjelaskan, ada beberapa hadits tentang buah semangka yang menjadi kesuakaan Baginda Nabi Muhammad SAW. Salah satunya diriwayatkan Siti Aisyah radhiyallahu'anha. Rasulullah SAW pernah bersabda:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ الْبِطِّيخَ بِالرُّطَبِ فَيَقُولُ نَكْسِرُ حَرَّ هَذَا بِبَرْدِ هَذَا وَبَرْدَ هَذَا بِحَرِّ هَذَا
Artinya: Nabi Muhammad SAW makan semangka bersama ruthab (kurma yang matang sebelum jadi tamar) kemudian beliau bersabda: “Kita menghilangkan panasnya ini (ruthab) dengan dinginnya ini (semangka), dan kami menghilangkan dinginnya buah ini (semangka) dengan panasnya buah ini (semangka)” [HR Abu Dawud].
Dalam hadits lain tentang buah semangka disebutkan, suatu ketika, seorang tukang jahit mengundang Rasulullah SAW untuk makan hasil masakannya.
Anas bin Malik radhiyallahuanhu kemudian ikut pergi bersama Nabi SAW. Si Tukang jahit menghidangkan roti dari gandum dan kuah yang di dalamnya ada labu dan dendeng daging. Anas berkata; Aku melihat Rasulullah SAW mencari-cari labu yang berada di sekeliling piring besar, lalu ia berkata:
فَلَمْ أَزَلْ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ مُنْذُ يَوْمَئِذٍ
Artinya: Mulai saat itu, aku menjadi senang dengan labu (karena disukai oleh Rasul SAW). [HR Muslim].
Karena itu, bagi seorang muslim ketika memakan buah Semangka dianjurkan untuk meniatkannya tidak hanya untuk menambah nafsu makan, namun mengikuti atau ittiba kesukaan Nabi SAW. Sehingga, akan semakin meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.