Darii sini, derajat orang berilmu berbeda dengan orang tak berilmu. Allah berfirman dalam QS. Al-Mujadalah/58: 11:
…يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ…
Artinya: “…Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadalah/58: 11)
Jadi, seseorang diangkat derajatnya oleh Allah karena imannya. Derajat orang beriman akan berbeda dengan orang-orang yang tak beriman. Setelah faktor keimanan, orang-orang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah. Contohnya adalah perbedaan antara seorang profesor dengan orang biasa ketika membicarakan konsep kenegaraan.
Seorang profesor akan mampu menjelaskan konsep kenegaraan hingga mengaitkannya dengan konsep lainnya, seperti ekonomi, teknologi, kebijakan publik, regulasi kenegaraan, dan sebagainya.
Bulan Ramadan adalah kesempatan untuk umat manusia untuk menambah ilmu, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan umum. Ilmu agama adalah salah satu bagian dari cara Allah menjadikan umat pintar.
Bagaimana caranya? Umat mesti berdoa agar Allah cinta kepadanya. Sebab, Allah jika sudah cinta kepada seseorang, maka Ia akan diberi kemampuan tentang pelajaran-pelajaran keislaman. Para ulama tersohor, ahli fikih, ahli hadis, semua dicintai Allah karena memiliki ilmu pengetahuan. Semoga Ramadan ini menjadi momentum umat Islam untuk memperbanyak menimba ilmu pengetahuan.