Selain dalam Alquran, penjelasan juga datang dari hadis Nabi SAW. Dalam Hadits Arba’in, diterangkan bahwa malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya:
قَالَ : أَخْبِرْنِيْ عَنِ الْإِيْمَانِ قَالَ ” أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِهِ ” قَالَ : صَدَّقْتَ
Artinya: “Orang itu berkata lagi: ‘Beritahukan kepadaku tentang Iman,’. Rasulullah SAW menjawab: ‘Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk,”. Orang tadi berkata: ‘Engkau benar’,” (HR Muslim).
Rukun iman yang pertama adalah iman kepada Allah SWT yang berkedudukan sebagai pencipta segala apa yang ada di alam semesta beserta isinya.
Iman kepada Allah artinya meyakini bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Iman kepada Allah juga termasuk percaya kepada ketetapan dan sifat-sifat-Nya yang tertuang dalam Asmaul Husna. Meyakini atau iman kepada Allah juga tidak hanya dengan kata-kata, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan Caranya yaitu dengan amar ma’ruf dan nahi munkar, yang artinya melakukan segala perintah serta menjauhi larangan yang menghantar ke jurang kesesatan.