JAKARTA, iNews.id - Teks khutbah Jumat edisi 9 Oktober 2026 bertepatan Bulan Rabiul Akhir 1448 H singkat terbaru dan bikin menangis untuk disampaikan ke jemaah. Sebagaimana diketahui, khutbah Jumat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian ibadah shalat Jumat.
Para ulama sepakat bahwa khutbah Jumat termasuk syarat sah dari shalat Jumat, di mana shalat Jumat menjadi tidak sah apabila tidak didahului dengan dua khutbah.
Yaitu khutbah pertama dan khutbah kedua, di mana keduanya dipisahkan dengan duduk di antara dua khutbah. Khutbah Jumat itu dilakukan sebelum shalat Jumat.
Saat ini, umat Islam sudah memasuki pertengahan Bulan Rabiul Akhir 1448 H. Rabi artinya musim semi. Bulan ini konon diberi nama oleh kakek buyut Rasulullah SAW yakni, Kilab bin Murrah. Dinamakan demikian karena masyarakat Arab jahiliyah menetap di rumahnya masing-masing.
Nah, berikut ini contoh teks khutbah Jumat singkat terbaru bikin menangis bertema kenapa doa susah terkabul dilansir dari laman Kementerian Agama.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan hanya diwujudkan melalui kesungguhan dalam menjalankan ibadah ritual, tetapi juga melalui keselarasan antara apa yang kita ucapkan, apa yang kita mohonkan kepada Allah, dan apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, tidak sedikit orang yang lisannya dipenuhi doa, tetapi perilakunya justru menjauhkan dirinya dari terkabulnya doa tersebut.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam beberapa waktu terakhir, khatib mencermati sebuah potongan video pendek di media sosial yang menarik perhatian banyak orang. Seorang dokter sekaligus pegiat neurosains, Ryu Hasan, melontarkan pertanyaan yang sederhana, tetapi menggelisahkan. Ia bertanya, "Apakah doa-doa yang kita panjatkan selama ini benar-benar efektif? Sudah berapa kali Allah mengabulkan doa-doa kita?"
Terlepas dari siapa yang mengajukan pertanyaan itu, sesungguhnya pertanyaan tersebut layak menjadi bahan muhasabah bagi kita semua.
Bukankah hampir setiap selesai salat kita memohon agar Allah melapangkan rezeki kita?
Bukankah setiap hari kita berdoa agar diberi kesehatan, umur yang berkah, keluarga yang bahagia, usaha yang berhasil, anak-anak yang saleh dan salehah, bahkan husnul khatimah pada akhir kehidupan?
Namun mengapa sering kali kehidupan terasa berjalan di tempat? Mengapa ada orang yang bertahun-tahun memohon rezeki, tetapi tetap merasa sempit?
Mengapa ada yang terus meminta kesehatan, tetapi tetap mengabaikan pola hidup sehat? Mengapa ada yang setiap hari mendoakan anak-anaknya menjadi saleh, tetapi rumahnya sendiri miskin keteladanan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin pernah singgah dalam hati kita. Bahkan tidak sedikit orang yang kemudian bertanya, "Mengapa Allah belum juga mengabulkan doa-doaku?"