JAKARTA, iNews.id - Teks khutbah Jumat edisi 11 September 2026 singkat menyentuh hati tentang bencana alam dan perbuatan manusia bisa dijadikan rujukan bagi khatib untuk disampaikan ke jemaah.
Bencana merupakan suatu fakta kehidupan yang tidak dapat dihindari, kerap datang tiba-tiba, menimbulkan kerusakan bahkan kematian. Kerusakan alam yang dirasakan manusia tersebut, sering dikonotasikan dengan kehendak Allah SWT semata hingga memunculkan beragam tafsir dari ketidakpedulian Tuhan hingga azab untuk umat manusia.
Pembahasan bencana kaitannya erat dengan fenomena yang terjadi di Indonesia. Dalam kurun sebulan terakhir, bencana alam melanda sejumlah daerah di Indonesia, seperti gempa bumi di Flores, NTT, erupsi Gunung Karo dan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Selain itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatera hingga Pulau Jawa yang sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat akibat kabut asap. Bencana lainnya yakni, kekeringan imbas musim kemarau yang berkepanjangan hingga membuat masyarakat krisis air bersih.
Dilansir dari laman MUI, Ibnu Manzūr dalam karyanya Lisān al-‘Arab menyebutkan istilah bencana dikenal dengan al-kaaritsah (الكارثة) yang berarti suatu keadaan yang diliputi kesulitan, al-baliyyah (البلية) dan ad-dahr (الدهر) yang berarti perkara yang tidak disukai oleh manusia, seperti kemalangan dan musibah. Sedangkan dalam KBBI, bencana berarti sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitan.
Berikut teks khutbah Jumat tentang bencana dilansir dari laman Muhammadiyah.
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّين. اما بعد
قَالَ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيمِ : يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
وَقَالَ أَيْضاً : وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Manusia merasa khawatir bila dilanda bencana yang berdampak pada kerugian harta maupun benda. Manusia cenderung merasa bersalah jika suatu bencana telah menimpanya. Allah SWT tidak semata-mata memberikan suatu bencana bagi makhluk-Nya sebagai suatu azab atau murka dari Allah.
Jamaah yang insyallah dirahmati Allah,
Ada tiga konsep bencana yang didatangkan pada manusia; Yang pertama adalah bencana yang menimpa suatu kaum karena tidak taat pada perintah Allah, bencana ini sebagai azab atas perbuatan yang mereka lakukan agar senantiasa kembali ke jalan yang benar.
Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 45,
فَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۖ وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَّقَصْرٍ مَّشِيْدٍ
Artinya: “Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (ti-dak ada penghuninya).”