“Pernah kala itu di tahun berapa saya lupa ya, ada chat masuk. Dia cuma bilang istilahnya ‘jangan jadi orang yang menyebalkan deh’ (dalam bahasa Inggris),” ucap Roby.
Tak hanya itu, Roby juga mengungkap bahwa Aurelie pernah memintanya untuk terlibat dalam proses pembatalan pernikahan di gereja. Permintaan itu, kata Roby, membuatnya berada dalam posisi sulit karena syarat yang diajukan bertentangan dengan fakta yang dia yakini.
“(Kata Aurelie) Saya mau ngurus pembatalan nih, tapi syaratnya untuk gereja Katolik itu kan harus ada narasi dari masing-masing pasangan untuk kenapa mau gitu,” ujarnya.
Roby kemudian menolak menandatangani dokumen tersebut karena isi narasi yang diminta tidak sesuai dengan kenyataan.
“Ya di situ saya harus menulis bahwa saya KDRT. Kan nggak mungkin, saya nggak melakukan. Itu lho jawabannya,” kata Roby.
Lebih jauh, pria berusia 45 tahun itu mempertanyakan keabsahan status liber yang disebut-sebut telah diterima Aurelie dari pihak gereja. Sebab, Roby mengaku tidak pernah mendapatkan panggilan atau pemberitahuan resmi dari pihak gereja terkait proses maupun hasil pembatalan pernikahan tersebut.
Meski demikian, Roby menegaskan dirinya tidak ingin memperkeruh keadaan. Dia memilih untuk bersikap netral dan menghormati keputusan Aurelie dalam menjalani hidupnya ke depan.
“Tetapi saya tidak peduli. Benar jawabannya, saya benar-benar tidak mau. Kalau menurut dia sudah dapat (surat), ya silakan. Bisa menikah ya silakan. Saya benar-benar tidak mau menyinggung pihak dia. Dia mau punya pasangan baru dan menikah dan syaratnya memenuhi, silakan,” ujarnya.