"Tapi buat aku yang paling penting prioritas aku, aku pengen hari itu sesuai dengan yang dia inginkan, sesuai yang dia mau, sesuai dengan yang dia harapkan. Jadi aku ingin bisa meluluskan itu buat dia," ujar Denada.
Keputusan tersebut diambil berdasarkan komunikasi dan kesepakatan bersama. Denada berusaha menempatkan kenyamanan serta kebahagiaan Ressa sebagai prioritas utama dalam momen sakral tersebut.
"Aku mengikuti apa yang sekiranya paling menyamankan buat dia, membahagiakan buat dia," ucapnya.
Walau tidak hadir secara fisik, Denada tetap menunjukkan dukungan penuh sebagai seorang ibu. Dia mengaku terus mendoakan sang anak sejak malam sebelum pernikahan digelar.
Tak hanya itu, Denada juga tetap merasakan kebahagiaan melalui teknologi. Dia berkesempatan mengikuti momen pernikahan melalui sambungan video call dan bahkan sempat berinteraksi langsung.
"Doa itu pasti aku dari mulai malam sebelumnya. Walaupun aku tidak di sana berada bersama dan bisa melihat langsung, tapi aku senang karena aku ditelepon langsung, video call, apa segala macam bisa langsung kenalan, ngobrol gitu," kata Denada.
Kisah ini pun menunjukkan bahwa kehadiran tidak selalu harus secara fisik. Dukungan dan doa tulus dari seorang ibu tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup anak, termasuk di hari pernikahan.