Itulah alasannya butuh waktu 11 tahun hingga akhirnya dia menemukan film dengan kisah yang menyentuh hatinya. "Bukan nggak mau, aku tuh dari dulu bukannya nggak mau, tapi mungkin sebagai rasa tanggung jawab aku terhadap profesi sehingga aku agak sedikit selektif di dalam memilih peran," kata Jenny Rachman di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/8/2023).
Dia menyebut, tak ada niatan untuk vakum dari industri perfilman. Namun memang banyak pertimbangan yang dipikirkannya ketika mengambil tawaran untuk bermain film.
Apalagi, kata Jenny, dia juga berharap ke depannya mendapatkan peran yang lebih menantang ketimbang peran-perannya yang kebanyakan terlibat dalam film drama.
"Kalau memang ceritanya bagus, pemerannya bagus, ada tantangan dan punya message positif tentunya untuk para pecinta film indonesia, pasti aku main gitu. Jadi bukannya menghindar atau bukan aku nggak mau main, ya mudah mudahan aja setelah Air Mata di Ujung Sajadah aku bisa mendapatkan cerita dan peran-peran yang lebih menantang lagi," kata dia.
Meski demikian, Jenny tak menampik jika film drama akan selalu memiliki tempat tersendiri di hatinya. Sebab, banyak pesan moral yang terselip dalam setiap film drama, terutama film yang memang relate dengan kehidupan masyarakat.
"Dari dulu (main) film saya selalu kehidupan drama sosial ya. Karena dalam kehidupan ini saja sudah drama. Jadi memang banyak pembelajaran yang aku terima dari cerita di setiap film. Jadi drama kehidupan yang bisa memberikan nilai positif kepada masyarakat dan punya massage yang positif, pasti aku main," kata aktris 64 tahun ini.