Devi Dja dikenal sebagai penari, pemain sandiwara, dan bintang film Indonesia. (foto: instagram)
Siska Permata Sari

JAKARTA, iNews.id - Nama Devi Dja di panggung hiburan Tanah Air telah melegenda. Dia merupakan seorang penari, pemain sandiwara, dan bintang film Indonesia era 1940-an, yang mengharumkan nama bangsa dan berdedikasi untuk negeri lewat kesenian.

Kiprah Devi Dja atau Sutidjah di dunia kesenian bermula dari mengikuti rombongan teater, Dardanella. Pada awalnya, dia hanya mendapatkan peran-peran kecil dan lebih sering menjadi penari yang tampil dalam pergantian antar babak.

Namun, seiring berjalannya waktu, nama Sutidjah mulai bersinar. Terlebih saat dia menjadi bintang utama dan memerankan tokoh Soekaesih, dalam lakon Dokter Syamsi. Kemudian, bersama rombongan teater Dardanella, Devi Dja melanglang buana ke luar negeri.

Di usianya yang sangat muda, yakni 17 tahun, Devi Dja sudah mulai tampil di Singapura. Lalu berlanjut ke beberapa kota di China, India, dan Myanmar. Bahkan, ketika itu, penampilan Devi Dja saat menari, disaksikan langsung oleh Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru.

Devi Dja dan Dardanella kemudian melanjutkan perjalanannya keliling dunia. Mulai dari Turki, Paris, lalu ke Maroko, Jerman, menuju ke Benua Amerika dan mendarat di New York. Siapa yang sangka, bahwa di Amerika inilah Devi Dja memulai hidup baru, membangun cerita-cerita heroik hingga akhir hayat.

Kisahnya itu bermula saat dia memutuskan hengkang dari Dardanella karena suatu percekcokan. Meski tak lagi bersama rombongan teater itu, namun Devi Dja tetap berkesenian, di mana dia turut berkontribusi mengumpulkan dana bagi perjuangan pada masa revolusi fisik pasca kemerdekaan.

Bersama dengan The Indonesian Association di kota San Fransisco, Devi Dja dengan grupnya kerap mengadakan pertunjukan seni Indonesia yang hasilnya disumbangkan untuk perjuangan Indonesia.

Berkat dedikasinya, Devi Dja sempat diperkenalkan sebagai duta kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Amerika oleh Sutan Syahrir. Saat itu, Sutan Syahrir tengah memimpin delegasi RI untuk memperjuangkan pengakuan Internasional terhadap kemerdekaan Indonesia di markas PBB, di New York pada 1947.

Devi Dja lalu resmi menjadi warga negara Amerika pada 1951. Dia sempat hijrah ke Los Angeles dan berkesenian di sana. Tidak hanya menggelar pertunjukan-pertunjukan seni Indonesia, perempuan kelahiran Situbondo, 1 Agustus 1914 ini bahkan mengajarkan tarian-tarian daerah kepada para penari di Amerika.

Dedikasi Devi Dja untuk Indonesia tidak sampai di situ. Dalam perjalanan hidupnya, dia juga sempat membela pemuda-pemuda Indonesia di pengadilan Los Angeles saat ramainya  berita tentang Perbudakan di Los Angeles. Dia membela pemuda-pemudi Indonesia yang dirantai dan dihadapkan ke pengadilan Amerika di Los Angeles. 

Berkat campur tangan Devi Dja bersama staf KBRI di Los Angeles, Pruistin Tines Ramadhan, dan Joop Ave, yang waktu itu sebagai Dirjen Protokol Konsuler di Deplu Pejambon, persoalan tersebut berhasil terselesaikan dan tidak ada pemuda Indonesia yang ditahan. 

Devi Dja kemudian meninggal dunia di Los Angeles pada tanggal 19 Januari 1989. Jenazahnya lalu dimakamkan di Hollywood Hills, Los Angeles. Kepergiannya meninggalkan satu orang putri, yakni Ratna Assan, anak dari pernikahan ketiganya dengan Ali Assan.


Editor : Elvira Anna

BERITA TERKAIT