Pemerintah juga melakukan restrukturisasi dengan mengubah Kementerian Sumber Daya Primer dan Pariwisata menjadi Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri. Langkah tersebut diambil untuk mempercepat diversifikasi ekonomi di tengah upaya mengurangi ketergantungan negara terhadap sektor minyak dan gas.
Perombakan kabinet dilakukan saat Brunei menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin dinamis. Meski pendapatan negara meningkat berkat tingginya harga energi dunia, pemerintah juga menghadapi tekanan akibat membengkaknya subsidi energi domestik.
Untuk mengantisipasi dampak ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah, pemerintah Brunei telah membentuk tim khusus guna memantau stabilitas pasokan energi dan menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Dengan ditunjuknya Pangeran Abdul Mateen sebagai Menteri Luar Negeri, Brunei dinilai tengah membuka babak baru dalam diplomasi negara, dengan menampilkan wajah kepemimpinan yang lebih muda dan modern di tingkat internasional.