Rangkaian karya itu menunjukkan luasnya eksplorasi Eugene dalam dunia penyutradaraan. Ia tidak terpaku pada satu genre, mulai dari cerita anak, drama sosial, film aksi hingga kisah percintaan.
Kiprah Eugene Panji ternyata tidak berhenti di balik kamera.
Ia juga dikenal aktif membangun ruang kreatif dan tempat berkumpul yang mempertemukan berbagai komunitas. Eugene turut mendirikan Paviliun 28 di Jakarta dan Longkang Kotagede di Yogyakarta. Kedua ruang tersebut menjadi bagian dari aktivitasnya dalam mengembangkan ekosistem kreatif sekaligus bisnis lokal.
Dengan demikian, perjalanan Eugene selama lebih dari dua dekade tidak hanya meninggalkan karya di layar, tetapi juga ruang bagi orang-orang kreatif untuk bertemu, berkolaborasi, dan menghasilkan karya.