Di dunia tata rias, Uun Unajah adalah rujukan utama. Melalui organisasi Tiara Kusuma (Persatuan Ahli Kecantikan dan Pengusaha Salon Indonesia), ia aktif memberikan edukasi agar para penata rias (MUA) masa kini tidak meninggalkan pakem asli.
Ia dikenal sangat detail dalam mengajarkan filosofi riasan. Salah satu karyanya yang monumental adalah buku 'Tata Rias Pengantin Kebesaran Sumedang' (2006).
Dalam buku tersebut, ia membedah makna di balik setiap helai kain dan aksesori, seperti Siger (mahkota) dan Seureuh Tumbal (daun sirih di kening), yang ia yakini sebagai simbol doa dan perlindungan bagi mempelai.
Tidak banyak praktisi kecantikan yang juga aktif menulis, Uun Unajah sadar bahwa ilmu akan hilang jika tidak dibukukan. Selain buku tentang pengantin Sumedang, ia juga merilis 'Pelestarian Busana dan Sanggul Daerah' (2009).
Buku-bukunya kini menjadi 'kitab suci' bagi para mahasiswa jurusan tata rias dan pengusaha salon di seluruh Indonesia. Ia berhasil membuktikan bahwa profesi penata rias adalah profesi terhormat yang memerlukan kedalaman ilmu dan rasa seni yang tinggi.
Kematian Uun Unajah menyisakan duka mendalam bagi banyak pihak. Ucapan duka mengalir deras dari berbagai pihak, mulai dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat hingga komunitas alumni Mojang Jajaka dari berbagai angkatan.
Mereka mengenang almarhumah sebagai sosok yang tegas namun penuh kasih sayang, layaknya seorang ibu yang sedang mendidik anak-anaknya.