"Momen paling berat itu ketika enggak bisa ada di samping anak ketika mereka sakit. Ada luka yang kita enggak bisa ceritakan, ada luka yang harus ditahan sendiri. Jadi itu yang paling sesak," tuturnya lirih.
Namun waktu perlahan membawa mereka kembali bersama. Setelah anak-anaknya kembali dalam pelukan, Inara memilih bangkit. Ia mencurahkan seluruh tenaga dan hatinya untuk mendampingi proses terapi dan pengobatan sang buah hati.
Perjuangan itu kini mulai menunjukkan secercah harapan. Di balik tangis yang pernah pecah, ada senyum kecil yang mulai tumbuh.
"Anak aku yang nomor dua yang ADHD, dia jadi jauh bisa lebih mendengarkan, lebih fokus ketika aku ngomong sama dia. Yang nomor tiga autisme ringan, Alhamdulillah hari ini sudah banyak progres. Sudah bisa eye contact lebih lama," katanya dengan suara bergetar, namun penuh syukur.
Bagi Inara, anak-anaknya bukan hanya amanah, tapi juga alasan untuk tetap berdiri di tengah badai yang nyaris merobohkannya.