Tak heran jika Lu menyebut hasil tersebut sebagai sebuah keajaiban.
“Pasien itu beruntung. Setiap perawatan yang berhasil bergantung pada perkembangan medis, ketekunan staf, dan keberuntungan,” ujarnya, seperti dikutip dari South China Morning Post (SCMP), Selasa (28/4/2026).
Kasus ini memicu diskusi hangat netizen media sosial.
“Pria itu sangat beruntung karena menerima perawatan tepat waktu, jika tidak, bahkan ECMO pun tidak dapat menyelamatkan nyawanya,” kata netizen.
ECMO merupakan alat bantu kehidupan, bertindak sebagai jantung dan paru-paru buatan. Alat ini bekerja dengan menambah oksigen serta menghilangkan karbon dioksida dari darah pasien gagal organ. Mesin ini kerap digunakan pada pasien serangan jantung atau mereka yang menjalani transplantasi jantung dan paru-paru.
Tahun lalu, seorang perempuan 53 tahun di Provinsi Hubei, diselamatkan setelah jantungnya berhenti berdetak 5 jam.
Kemudian pada 2022, Rumah Sakit Rakyat No 1 Yancheng, Provinsi Jiangsu, mengumumkan berhasil menyelamatkan seorang perempuan 36 tahun menggunakan mesin ECMO setelah jantungnya berhenti selama 96 jam.
Menurut rumah sakit, ECMO bisa meningkatkan tingkat kelangsungan hidup pasien henti jantung hingga 50 persen, dibandingkan 1 persen menggunakan CPR konvensional.