Bar sebelumnya mengundurkan diri dari jabatan kepala Shin Bet pada Juni 2025. Saat itu, dia mengakui sistem di badan intelijen tersebut telah runtuh dan gagal memberikan peringatan dini yang memadai untuk mencegah serangan Hamas.
Meski mengakui kegagalan institusinya, Bar menegaskan pengunduran dirinya merupakan bentuk tanggung jawab sebagai kepala badan intelijen. Dia juga menyatakan telah memperingatkan Netanyahu sebelum serangan 7 Oktober 2023 mengenai potensi ancaman yang berkaitan dengan Hamas.
Menurut Bar, ketika muncul tanda-tanda kemungkinan serangan, dia menghubungi sekretaris militer perdana menteri. Dia mengaku tidak memiliki nomor telepon langsung Netanyahu sehingga menyampaikan informasi tersebut melalui pejabat itu.
Pernyataan Bar tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perselisihan mengenai apakah Netanyahu telah menerima peringatan sebelum serangan terjadi dan sejauh mana pemerintahannya bertanggung jawab atas kegagalan mengantisipasi serangan Hamas.
Serangan yang dilancarkan Hamas pada 7 Oktober 2023 itu dikenal sebagai Operasi Badai Al Aqsa. Dalam serangan tersebut, para pejuang Hamas memasuki wilayah Israel menggunakan sejumlah kendaraan, termasuk pikap, serta paralayang.
Serangan itu menewaskan 1.221 orang di Israel. Pemerintah Netanyahu kemudian melancarkan operasi militer besar-besaran ke Jalur Gaza yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 dan telah menewaskan lebih dari 74.300 orang, menurut data dalam laporan tersebut.
Gugatan Bar kini membawa perseteruan antara mantan pimpinan intelijen dan perdana menteri Israel ke ranah hukum. Di tengah mendekatnya pemilu Knesset, perkara tersebut kembali menyoroti pertanyaan mengenai tanggung jawab politik dan keamanan atas kegagalan Israel mengantisipasi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.