ABU DHABI, iNews.id - Ambisi pembentukan negara Yaman Selatan kembali menguat di tengah memanasnya konflik di Yaman. Situasi ini memperlihatkan perbedaan sikap tajam antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), dua negara yang sebelumnya berada dalam satu barisan koalisi.
Ketegangan mencuat setelah Arab Saudi melancarkan serangan udara ke pelabuhan Al Mukalla, Provinsi Hadhramaut, dan mengultimatum UEA agar menarik seluruh pasukannya dari Yaman. Saudi menuduh UEA memberikan dukungan senjata dan kendaraan tempur kepada kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC) yang gencar mendorong pemisahan Yaman selatan.
STC dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan operasi militer dan mengklaim telah menguasai delapan provinsi strategis di Yaman. Kelompok tersebut secara terbuka kembali menyerukan berdirinya negara Yaman Selatan yang terpisah dari pemerintahan sah di Sanaa maupun Aden.
Bagi Arab Saudi, langkah STC dinilai mengancam keutuhan Yaman dan berisiko menciptakan instabilitas baru di perbatasannya. Riyadh menegaskan dukungan penuh terhadap pemerintahan sah Yaman dan menganggap setiap dukungan terhadap kelompok separatis sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional Saudi.
“Kerajaan menegaskan setiap ancaman terhadap keamanan nasionalnya adalah garis merah,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arab Saudi, menyusul ultimatum penarikan pasukan UEA dalam waktu 24 jam.
Sebaliknya, UEA selama ini dikenal memiliki kedekatan dengan kelompok-kelompok bersenjata di Yaman selatan, termasuk STC. Abu Dhabi berdalih dukungan tersebut bertujuan memerangi terorisme dan menjaga stabilitas, meski tudingan Saudi dan pemerintah Yaman menyebut langkah itu justru memperparah fragmentasi negara.
UEA sempat membantah tuduhan mengarahkan STC untuk memberontak, namun akhirnya mengumumkan penarikan unit kontraterorisme yang tersisa di Yaman setelah situasi memanas. Langkah ini dipandang sebagai upaya meredam konflik terbuka dengan Saudi, meski perbedaan kepentingan tetap menganga.