"Bunuh diri dianggap sebagai penyebab kematian yang dapat dicegah dan studi ini menunjukkan bahwa kita harus melanjutkan upaya pencegahan," kata Heather Orpana, ilmuwan dari Badan Kesehatan Masyarakat Kanada dan seorang kolaborator dalam penelitian ini, seperti dikutip dari AFP, Kamis (7/2/2019).
Jumlah kasus bunuh diri di setiap negara berbeda-beda, bahkan ada yang melebihi angka kematian akibat penyebab lain. Karena itu tim memperingatkan, di beberapa wilayah di dunia, bunuh diri masih menjadi permasalahan serius.
Sebagai contoh, di China, tingkat rata-rata kematian akibat bunuh diri turun 64,1 persen sejak 1990. Namun di Zimbabwe, kasus bunuh diri jusru naik hampir dua kali lipat pada periode yang sama.
Penelitian juga mengungkap, laki-laki lebih rentan melakukan bunuh diri daripada perempuan di semua wilayah dan kelompok umur, selain dari 15 hingga 19 tahun. Namun Global Burden of Disease tidak menyebutkan penyebabnya.
"Umumnya, angka kematian bunuh diri lebih tinggi untuk laki-laki, tetapi ada variabilitas yang cukup besar antara laki-laki dan perempuan bergantung pada usia dan negara," kata Orpana.
Secara global, kasus laki-laki yang bunuh diri yakni 15,6 kematian per 100.000, sementara perempuan 7 per 100.000.