Antara Gencatan Senjata dan Ilusi Perdamaian: Membaca Realitas Kesepakatan AS-Iran

Wibawanto Nugroho Widodo
(Foto: AI)

Jika kemudian ditarik ke dalam gambaran “deal realistis versi final”, kesepakatan yang paling mungkin terjadi bukanlah perdamaian komprehensif, melainkan sebuah pengaturan sementara yang menjaga konflik tetap terkendali. Dalam skenario ini, Iran kemungkinan akan menyetujui pembatasan terbatas pada pengayaan uranium dan membuka akses inspeksi tertentu, sementara Amerika Serikat memberikan pelonggaran sanksi yang bersifat reversible. Pada saat yang sama, tidak ada penyelesaian menyeluruh terhadap isu proksi regional maupun rivalitas strategis dengan Israel.

Pandangan ini sejalan dengan analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) melalui pengamat seperti Daniel Byman, yang menekankan bahwa gencatan senjata saat ini lebih menyerupai jeda daripada penyelesaian konflik. Ia menunjukkan, meskipun Amerika Serikat, Israel, dan Iran dapat menyepakati penghentian sementara permusuhan, berbagai isu mendasar tetap tidak terselesaikan, mulai dari program nuklir Iran hingga dukungannya terhadap aktor-aktor non-negara di kawasan.

Lebih jauh, program nuklir Iran tetap menjadi pusat ketegangan. Bahkan ketika tekanan militer meningkat dan kemampuan Iran mungkin terhambat dalam jangka pendek, terdapat kemungkinan bahwa Teheran justru semakin terdorong untuk mempercepat upaya memperoleh senjata nuklir sebagai bentuk jaminan keamanan terhadap superioritas militer Amerika Serikat dan Israel. Ini menciptakan paradoks keamanan yang sulit dipecahkan.

Dimensi konflik regional juga memperumit situasi. Operasi militer yang melibatkan kelompok seperti Hizbullah di Lebanon menunjukkan bahwa bahkan jika konflik langsung dengan Iran mereda, perang proksi tetap berlangsung dengan dampak kemanusiaan yang besar. Hal ini menegaskan bahwa kesepakatan bilateral tidak otomatis meredakan konflik yang lebih luas.

Selain itu, terdapat risiko eskalasi lanjutan dalam bentuk aksi balasan dan kekerasan tidak langsung. Jika permusuhan kembali pecah, kepemimpinan Iran mungkin melihat peningkatan tekanan sebagai strategi untuk menciptakan efek jera, sementara konflik yang lebih luas juga dapat memicu gelombang kekerasan yang tidak sepenuhnya terkendali oleh negara. Dalam waktu yang sama, persepsi sekutu terhadap Amerika Serikat juga mengalami perubahan, terutama ketika perang dianggap tidak populer dan berdampak negatif terhadap ekonomi global serta kesiapan militer jangka panjang.

Pada akhirnya, bahkan setelah pertempuran besar mereda, konflik kemungkinan besar akan berlanjut dalam bentuk intensitas rendah namun persisten. Iran mungkin meyakini bahwa mereka akan tetap menjadi target terlepas dari sikap moderasi, sehingga memperkuat logika resistensi dan retaliasi. Dengan demikian, gencatan senjata bukanlah titik akhir, melainkan bagian dari siklus konflik yang terus berulang.

Kesimpulan yang paling tajam dari seluruh dinamika ini adalah bahwa gencatan senjata tersebut pada dasarnya bukan solusi, melainkan jeda dalam konflik yang akar penyebabnya tetap utuh, bahkan dalam beberapa aspek justru semakin menguat. Inilah yang menjadi “early warning” paling jelas: ketika isu-isu fundamental tidak disentuh, maka setiap kesepakatan hanya menunda, bukan mencegah, babak konflik berikutnya.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
Internasional
12 jam lalu

Iran Peringatkan Kapal-Kapal Lintasi Selat Hormuz: Banyak Ranjau!

Internasional
13 jam lalu

Trump: Perundingan Damai AS-Iran Digelar Tertutup

Internasional
13 jam lalu

Australia Sambut Gencatan Senjata tapi Kecam Ancaman Trump soal Hancurkan Peradaban Iran

Internasional
14 jam lalu

Israel Buka Masjid Al Aqsa Hari Ini, Umat Islam Bisa Salat Subuh Berjamaah

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal