Unta di Timur Tengah telah digunakan selama berabad-abad untuk kebutuhan makanan, transportasi, dan secara historis juga digunakan sebagai mata uang. Akan tetapi, hari ini, unta juga dibiakkan untuk balap.
Ada catatan ras unta yang berasal dari abad ketujuh, tetapi bisnisnya menjadi lebih terorganisasi dalam beberapa dekade terakhir. Di Uni Emirat Arab, mantan penguasa Abu Dhabi sekaligus bapak pendiri negara itu, Sheikh Zayed bin Sultan al-Nahyan, mengawasi pembangunan beberapa jalur pacuan unta, New York Times melaporkan.
Festival unta menarik ribuan pengunjung yang ingin menyaksikan balapan. Tak hanya itu, uang jutaan dolar pun mengalir selama festival karena banyaknya pembeli mencari unta-unta yang menarik.
Pada 2018, hampir 26.000 unta berpartisipasi dalam kontes Unta Mazayen di Festival Unta Raja Abdulaziz yang berlangsung sebulan di Arab Saudi. Festival itu bertujuan mencari unta yang paling indah. Beberapa pemilik bahkan melakukan operasi plastik pada unta mereka, seperti menyuntikkan botox ke bibir hewan itu untuk membuatnya tampak lebih cantik. Akan tetapi, penyelenggara acara menganggap tindakan semacam itu tidak manusiawi.
Unta, seperti kuda di Dunia Barat, bisa memberikan keuntungan yang lumayan karena kualitas yang dimilikinya. Harga jual unta dapat berkisar dari 2.700 dolar AS (Rp39 juta) hingga 815.000 dolar AS (Rp11,75 miliar), New York Times melaporkan.
Pangeran Mahkota Dubai Syekh Hamdan bin Muhammad bahkan mampu membayar 2,7 juta dolar AS (Rp39 miliar) untuk seekor ras betina pada sebuah kontes kecantikan unta.