Setelah itu roket pendorong meledak melontarkan kursi ke bagian atas dengan mengikuti rel sehingga arahnya aman, tidak menabrak bagian pesawat lain.
Waktu lontaran tidak lebih dari 4 detik sejak handel ditarik. Lama waktu bisa berbeda, bergantung pada model kursi serta bobot pilot.
Saat kursi melontar, tubuh pilot, terutama bagian kaki dan tangan akan terkait dengan tali sehingga merapat ke badan. Ini untuk menghindari efek hentakan dari pergerakan kursi yang sangat cepat. Jika tak terikat, kaki dan tangan pilot bisa terempas seketika menyebabkan cedera parah atau patah tulang.
Setelah beberapa saat di udara, kursi akan terlepas dari tubuh pilot disertai mengembangnya parasut. Kursi akan jatuh ke darat dalam kondisi terpisah dengan pilot. Pada pesawat tertentu antara pilot dan kursi masih terhubung agar keduanya tak berpisah jauh. Ini karena pada kursi pesawat tersimpang peralatan survival.
Lantas, bagaimana jika saat pilot mengaktifkan kursi pelontar posisi pesawat miring atau bahkan ke bawah. Kondisi ini tentunya sudah diperhitungkan mengingat pergerakan jet tempur sangat dinamis. Roket yang melontarkan kursi ke luar pesawat akan menyesuaikan arah ke atas karena dilengkapi sensor.
Pada 2020 lalu, seorang pilot TNI Angkatan Udara Lettu Aprianto Ismail selamat dari jet tempur yang jatuh di Desa Kubang Jaya, Kampar, Riau. Dia selamat setelah menggunakan kursi pelontar sebelum pesawat mengalami kecelakaan.