Menariknya, penyelenggara tidak hanya ingin memperlihatkan bahwa robot bisa melakukan gerakan seperti manusia.
Kompetisi ini juga dirancang untuk menguji apakah humanoid benar-benar mampu menghadapi kondisi yang tidak sempurna di dunia nyata.
Sebuah kabel bisa berada pada sudut yang salah. Barang dapat bergeser. Objek mungkin berada di luar jangkauan. Robot juga bisa melakukan kesalahan dalam sebuah gerakan.
Dalam kondisi seperti itu, robot harus mampu mengenali masalah, menyesuaikan gerakan dan memperbaiki kesalahan tanpa terus-menerus mendapatkan bantuan manusia.
CEO Lumos Robotics Yu Chao menilai nilai sebenarnya dari teknologi tersebut tidak terletak pada aksi spektakuler di arena.