Dari Es Abadi ke Pusat Konflik Global: Mengapa Greenland Diperebutkan?

Anton Suhartono
Greenland dulunya jauh dari hiruk-pikuk politik global, namun kini menjadi rebutan kekuatan besar dunia (Foto: AP)

JAKARTA, iNews.id - Selama puluhan tahun, Greenland kerap dipandang sebagai wilayah es abadi yang jauh dari hiruk-pikuk politik global. Namun kini, pulau terbesar di dunia itu berubah menjadi titik panas geopolitik, diperebutkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China.

Pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan merebut Greenland, bahkan dengan kekuatan militer, menandai babak baru perebutan pengaruh di kawasan Arktik.

Letak Strategis di Jantung Arktik

Greenland berada di posisi yang sangat strategis, menghubungkan Amerika Utara, Eropa, dan Kutub Utara. Secara militer, wilayah ini merupakan kunci pengawasan jalur penerbangan dan rudal lintas benua. Tak heran, Amerika Serikat telah lama memiliki Pangkalan Udara Thule di Greenland, salah satu instalasi pertahanan terpenting AS di kawasan Arktik.

Seiring meningkatnya ketegangan global, posisi Greenland semakin vital dalam peta pertahanan dan keamanan dunia.

Es Mencair, Peluang Terbuka

Perubahan iklim turut mengubah wajah Arktik. Mencairnya lapisan es membuka jalur pelayaran baru yang memangkas waktu tempuh perdagangan global antara Asia, Eropa, dan Amerika. Selain itu, Greenland diyakini menyimpan cadangan besar mineral langka, minyak, gas, serta sumber daya alam strategis lain yang sangat dibutuhkan untuk industri teknologi dan pertahanan.

Kekayaan inilah yang membuat Greenland tidak lagi dipandang sebagai wilayah terpencil, melainkan sebagai aset strategis bernilai tinggi.

Amerika, Rusia, dan China Berebut Pengaruh

Amerika Serikat menilai penguasaan Greenland penting untuk mencegah meluasnya pengaruh Rusia dan China di Arktik. Trump bahkan secara terbuka menyatakan bahwa jika AS tidak bertindak, maka dua rival utamanya itu akan “mengambil alih” Greenland.

Di sisi lain, Rusia terus memperkuat kehadiran militernya di wilayah Arktik, sementara China, meski bukan negara Arktik—secara agresif menanamkan investasi dan menyebut dirinya sebagai “negara dekat Arktik”.

Persaingan ini menjadikan Greenland sebagai medan tarik-menarik kekuatan global, bukan sekadar isu regional.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
Internasional
6 jam lalu

Greenland Tegaskan Tak Rela Dicaplok AS Apa pun Alasannya

Internasional
6 jam lalu

Tolak Dicaplok, Greenland Peringatkan AS Masih Anggota NATO

Internasional
8 jam lalu

Anggota DPR AS Siapkan RUU Beri Jalan Trump Caplok Greenland

Internasional
8 jam lalu

Trump Ancam Kenakan Tarif 25% kepada Negara yang Berbisnis dengan Iran

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal