Virus nipah tergolong zoonosis, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Virus itu menyebabkan berbagai penyakit mulai dari infeksi tanpa gejala hingga penyakit pernapasan akut dan ensefalitis yang fatal, menurut WHO. Wabah besar virus itu disebabkan penularan dari kelelawar dan babi.
WHO menyatakan, pada 2018, virus nipah sempat menjadi masalah kesehatan masyarakat karena menginfeksi berbagai hewan dan menyebabkan penyakit parah dan kematian pada manusia. “Namun, virus nipah hanya menyebabkan beberapa wabah yang diketahui di Asia,” ungkap badan PBB itu, dikutip dari Alarabiyah, Selasa (2/2/2021).
Negara-negara yang pernah terkena dampak virus nipah di masa lalu antara lain Malaysia, Singapura, Bangladesh, dan India. Sementara, negara lain yang diidentifikasi WHO memiliki kemungkinan risiko terinfeksi antara lain Kamboja, Ghana, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand.
“Orang yang terinfeksi awalnya mengalami gejala termasuk demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), muntah dan sakit tenggorokan. Gejala ini bisa diikuti oleh pusing, mengantuk, kesadaran yang berubah, dan tanda-tanda neurologis yang mengindikasikan ensefalitis akut,” kata WHO dalam sebuah laporan.
“Tingkat kematian kasus (nipah) diperkirakan 40 persen hingga 75 persen. Angka ini dapat bervariasi berdasarkan wabah tergantung pada kemampuan lokal untuk pengawasan epidemiologi dan manajemen klinis,” ungkap lembaga itu menambahkan.