Di sisi lain, penanganan demonstrasi oleh polisi turut menuai kritik. Kandidat presiden dari kubu kiri jauh, Jean-Luc Mélenchon, membela para mahasiswa dan mengecam tindakan aparat yang disebutnya "biadab" dan represif. Sejumlah pengunjuk rasa diduga terluka akibat proyektil pengendali massa yang ditembakkan polisi.
Para pengkritik Mélenchon menuduh partainya, France Unbowed, ikut memicu kekerasan dan berusaha mengambil keuntungan politik dari demonstrasi tersebut.
Sementara itu, tokoh sayap kanan jauh Marine Le Pen menyerukan perluasan kewenangan polisi untuk menindak para perusuh. Mantan Perdana Menteri Edouard Philippe, yang berasal dari kubu konservatif dan menjadi salah satu pesaing Le Pen dalam pemilihan presiden, mengecam aksi perusakan dan pembakaran.
Presiden Emmanuel Macron juga angkat bicara dengan mengecam kekerasan serta upaya manipulasi politik terhadap para demonstran muda. Macron tidak dapat mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga berturut-turut berdasarkan konstitusi Prancis.
Demonstrasi tersebut turut menyoroti kekhawatiran mengenai ketimpangan pendidikan di Prancis. Laporan terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan kesenjangan prestasi antara siswa dari latar belakang sosial-ekonomi yang lebih beruntung dan kurang beruntung semakin melebar. Hasil pemahaman bacaan dan matematika siswa secara keseluruhan juga mengalami penurunan.