Dia berjanji akan lebih aktif berkampanye menjelang pemilu pada 3 November, dengan tujuan mengamankan mayoritas kursi bagi Partai Demokrat di DPR dan Senat, sekaligus meminta pertanggungjawaban pemerintahan Trump.
Trump pada Selasa lalu mengisyaratkan bahwa Omar bisa menghadapi hukuman penjara, bukan hanya deportasi, terkait penyelidikan federal terkait proses keimigrasiannya.
Agen federal menggeledah kediaman Omar sebagai bagian dari penyelidikan atas dugaan pernyataan palsu dalam dokumen pemerintah dan potensi konspirasi. Dalam penggeledahan tersebut, mereka menyita sejumlah laptop, ponsel, buku catatan, serta paspor Omar.
Penyidik tengah memeriksa apakah Omar atau mendiang ayahnya memberikan catatan usia yang tidak akurat saat dia memperoleh kewarganegaraan AS pada 2000.
Perempuan yang terpilih sebagai anggota DPR AS pada 2019 itu dengan tegas membantah pelanggaran. Dia menegaskan tiba di AS pada usia 12 tahun pada 1995 dan memperoleh status kewarganegaraan pada usia 17 tahun.