“Presiden Amerika Serikat meningkatkan ancaman agresi militernya terhadap Kuba ke skala berbahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya, dalam pernyataan di media sosial X, dikutip Rabu (6/5/2026).
Dia menyerukan masyarakat internasional untuk memberi perhatian serius terhadap situasi tersebut. Menurut Bermudez, kebijakan AS hanya menguntungkan segelintir elite kaya dan berpengaruh yang ingin membalas dendam sekaligus menguasai negara lemah.
Trump juga menandatangani instruksi presiden yang mengizinkan penerapan tarif terhadap negara-negara pemasok minyak ke Kuba serta mengumumkan keadaan darurat dengan dalih ancaman terhadap keamanan nasional AS.
Menanggapi langkah itu, pemerintah Kuba kembali menegaskan, kebijakan embargo energi yang diberlakukan Washington bukan sekadar sanksi ekonomi, melainkan strategi untuk menekan kehidupan rakyat secara langsung.