Joint List menyatakan, dukungan suara yang mereka terima mencerminkan tuntutan akan persatuan politik dan kehadiran kekuatan yang mampu membela hak-hak warga Arab tanpa kompromi.
Mereka juga berjanji untuk berupaya mencegah kembalinya pemerintahan tersebut, seraya menegaskan kesiapan untuk bekerja sama dalam membentuk pemerintahan alternatif.
Namun kerja sama itu tidak gratis, kubu oposisi harus berkomitmen menolak pengucilan warga Arab beserta perwakilan mereka, serta memperjuangkan hak-hak dan tuntutan komunitas Arab di Israel.
Joint List diproyeksikan memenangkan 12 kursi dan United Arab List (Ra’am) meraih 7 kursi, sehingga total perwakilan mereka menjadi 19 kursi, meningkat dari 10 kursi dalam pemilu pada 2022.
Lebih dari 500.000 surat suara khusus (yang menggunakan sistem amplop ganda) masih belum dihitung, yang berpotensi mengubah distribusi kursi. Surat suara ini mencakup suara tentara, diplomat, dan pihak-pihak lain yang memberikan suara di luar TPS tempat mereka terdaftar. Lebih dari 7,3 juta warga Israel memiliki hak pilih dalam pemilu pertama sejak Israel melancarkan perang genosida di Jalur Gaza pada Oktober 2023.