"Dia diintervensi dengan alat pemotong kawat kabel karena instrumen standar yang sebelumnya digunakan gagal," tulisnya.
Pasien diperbolehkan pulang pada hari yang sama saat intervensi dengan catatan dia harus kembali menjalani perawatan di hari lain. Sayang dia mangkir dari tindak lanjut berikutnya.
"Kasus semacam ini dapat menyebabkan komplikasi yang lebih berat," katanya.
Dalam laporan ilmiahnya, penulis juga mengatakan tidak ada metode dan alat khusus yang direkomendasikan untuk menghilangkan benda-benda tersebut dari penis.
"Instrumen sederhana dapat digunakan untuk intervensi asalkan dokter memiliki keterampilan bedah yang baik," katanya.
Sementara rasa malu yang dialami pasien menjadi akar penyebab keterlambatan konsultasi bedah dan rentan terhadap komplikasi.