Pemerintahan Erdogan juga menilai dokumen tersebut menunjukkan Uni Eropa tidak memiliki visi untuk membangun masa depan bersama dengan Turki.
Hubungan Turki dan Uni Eropa sejak lama menghadapi persoalan. Ankara memperoleh status sebagai negara kandidat anggota blok kawasan tersebut pada 1999. Enam tahun kemudian, pada 2005, negosiasi keanggotaan resmi dimulai.
Namun, proses tersebut praktis mengalami kebuntuan. Sejumlah persoalan menjadi penghambat, mulai dari perbedaan pandangan mengenai supremasi hukum, persoalan Siprus, hingga ketegangan terkait hubungan dan aktivitas Turki di kawasan Mediterania Timur.
Perselisihan politik lainnya juga membuat proses aksesi Turki semakin sulit. Akibatnya, setelah lebih dari 2 dekade berstatus kandidat, Turki belum juga menjadi anggota Uni Eropa.