Namun, serangan balasan Iran membuat pangkalan AS di negara-negara Teluk dan Yordania tetap menghadapi ancaman. Rudal dan drone Iran tidak hanya menimbulkan kerusakan, tapi juga menguras persediaan sistem pertahanan udara yang digunakan untuk melindungi fasilitas militer AS.
Perang melawan Iran juga menimbulkan korban di pihak AS. Sebanyak 18 personel militer Amerika tewas dan 824 lainnya terluka sejak konflik dimulai pada Februari 2026.
Menghadapi ancaman tersebut, Wilsbach mengumumkan pembentukan Sistem Senjata Pertahanan Poin (Point Defense Weapon System). Sistem ini akan mengintegrasikan sejumlah platform bergerak dan sistem senjata terarah untuk memperkuat perlindungan pangkalan AS dari serangan rudal dan drone.
Operasi Epic Fury sendiri telah berakhir setelah berlangsung selama 180 hari sesuai ketentuan undang-undang AS. Militer AS selanjutnya akan melakukan evaluasi terhadap operasi tersebut, termasuk dampak serangan balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan Timur Tengah.